KAMPANYE

Kampanye Pilkada akan berlansung cukup panjang. Keriuhan politik dipastikan tidak dapat dihindari meski KPU sudah menyiapkan sejumlah aturan. Rapat umum yang biasanya menjadi ajang pengumpulan massa dibatasi, hanya satu kali untuk masing-masing pasangan calon. Akan lebih banyak kampanye dalam bentuk tatap muka, pertemuan terbatas, dialog atau pun kegiatan lain yang tidak melanggar peraturan perundang-undangan.

 

Tak hanya itu, KPU juga membatasi besaran dana kampanye yang boleh digunakan oleh pasangan calon. Pembatasan tersebut bertujuan menjaga pasangan calon mengutamakan kepentingan pemilih daripada penyumbang serta menghindari kericuhan dana kampanye.

 

KPU juga mendanai pemasangan iklan di media massa bagi pasangan calon. Bahkan untuk pemasangan iklan, aturan KPU sangat ketat. Calon yang kedapatan memasang iklan baik di media cetak maupun elektronik, bakal dibatalkan kepesertaannya. Dengan aturan kampanye yang ketat, diharapkan waktu panjang yang disediakan tersebut dimanfaatkan sebagai pendidikan politik. Pasangan calon beserta kampanyenya turun langsung menemui calon pemilih untuk menjelaskan visi misi dan programnya.

 

Kampanye yang dilakukan untuk mendongkrak kesadaran masyarakat berpartisipasi dalam pesta demokrasi. Partisipasi yang dimaksud bukan sekedar datang ke TPS untuk mencoblos, tetapi juga kualitas partisipas memilih.

Mengapa Aku Memilih UMS Sebagai Tempat Belajar di Perguruan Tinggi ?

Hai, Readers 🙂

 

Kali ini aku akan sedikit curhat alias bercerita tentang Mengapa Aku Memilih UMS Sebagai Tempat Belajar di Perguruan Tinggi ?

 

Ceritanya nih…

 

Dulu sebelum masuk UMS, aku punya cita-cita untuk ngelanjutin studi di salah satu PTN ( Perguruan Tinggi Negeri ) favorit di Kota Solo. Semua jalur seleksi dan jalur tes ku tempuh dengan perjuangan semangat 45 ( cielah, berasa jaman kemerdekaan aja, pake semangat 45 segala hehe :3 ). Setelah melewati semua jalur tersebut, ternyata hasilnya “zonk”.

 

Bayangkan saja, ketika kamu ingin masuk PTN favorit, tetapi gagal dalam melalui semua jalur seleksi ataupun tes, gimana coba perasaanmu? Pasti sakitkan? ( ciee, baper, baper, jangan baper dong -_- ). Setelah terpuruk karena gagal masuk PTN, orang tua ku langsung berpikiran tentang salah satu PTS ( Perguruan Tinggi Swasta ) favorit di Kota Solo, yaitu UMS ( Universitas Muhammadiyah Surakarta ).

 

Menurut mereka, UMS itu PTS favorit di Kota Solo, akreditasinya juga bagus, pokoknya TOP BGT deh 😀

 

Waktu itu kalo ga salah hari Senin, aku mendaftar bersama temanku, kiranya aku mendaftar di prodi PGSD ( Pendidikan Guru Sekolah Dasar ) dan melalui jalur tes , akhirnya aku diterima sebagai mahasiswa baru , bayangin rasanya seneng banget deh 😀

 

Setelah libur panjang yang agak membosankan, hari yang ku tunggu-tunggu akhirnya datang, hari dimana mahasiswa baru disambut baik dengan POMB dan MasTa, yaitu semacam masa orientasi dan masa perkenalan semua tentang UMS.

 

Kesan ku saat mengalami masa itu sangatlah menyenangkan, karena sudah resmi menjadi bagian keluarga besar UMS, di masa itu juga aku mendapat pengalaman , ilmu dan teman baru.

 

Kemudian masa pengenalan tersebut berakhir dan berganti menjadi masa perkuliahan, yaitu masa dimana semua mahasiswa melakukan aktivitas perkuliahan belajar di ruang kelas.

 

Hari berganti-ganti, melalui lorong waktu, aku dan teman-teman menjalani proses perkuliahan, mengerjakan tugas kuliah, ujian tengah dan ujian akhir semester, dan semua kegiatan yang telah terprogram di kampus ku jalani dengan ikhlas dan semangat.

 

Sampai akhirnya sekarang ini aku mulai berjalan menuju ke semester 3, dimana aku akan menjadi kakak tingkat. Betapa senangnya ketika aku menjadi telah menjadi kakak tingkat. Pasti rasanya menyenangkan dan pastinya juga banyak tugas-tugas kuliah yang menantang untuk dikerjakan di jenjang semester yang lebih tinggi.

 

Emmm…

Akhirnya selesai juga cerita pengalaman ku dari awal semester 1 hingga menuju awal semester 3 di PTS favorit UMS ini.

 

Kesimpulannya adalah aku bangga menjadi bagian keluarga besar UMS, semoga UMS selalu menjadi PTS favorit di Kota Solo dan program perkuliahannya menjadi selalu yang terbaik. Terimakasih UMS 🙂

B612-2015-08-22-14-52-51

Teman baru saat masa orientasi di kampus 😀 . Kiri = Aku (Pendidikan Guru Sekolah Dasar). Tengah = Sheilla (Pendidikan Bahasa Inggris). Kanan = Icha (Pendidikan Teknik Informatika).

Karena… Aku Sayang Mama

“Luv, jadi belanja peralatan sekolah ke minimarket?” tanya Mama yang yang kepalanya tiba-tiba menyembul di depan pintu kamar Luvi.

“Jadi. Nih, lagi siap-siap,” jawab Luvi yang sedang meluruskan beberapa lembar uangnya.

“Luv, Mama nitip dong?” pinta Mama sambil berjalan ke kamar Luvi, lalu menyodorkan selembar uang sepuluh ribuan. “Enggak banyak kok. Mama kehabisan beberapa bumbu untuk nasi goreng, jadi tolong belikan cabe merah keriting lima ribu, bawang merah tiga ribu.”

“Enggak mau, ahh! Lagian aku kan, bareng si Boy. Mana mau anak laki-laki mampir ke pasar,” protes Luvi. “Nah, itu dia datang. Aku pergi dulu, Mam.”

Luvi buru-buru keluar kamar meninggalkan Mamanya yang masih menggenggam selembar uang sepuluh ribuan yang ada di tangannya.

Luvi dan Boyu sahabatnya itu, naik sepeda masing-masing menuju minimarket yang berjarak sekitar 2 kilometer dari rumah Luvi.

Sesampainya di tempat tujuan, Luvi dan Boy mulai berbelanja sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Luvi sibuk pilih-pilih alat tulis, lalu asyik pilih-pilih komik yang hendak dibelinya.

Setelah 15 menit, Luvi dan Boy bertemu di dekat kasir sesuai dengan perjanjian mereka. Luvi sangat kaget melihat keranjang belanjaan Boy yang berisi sabun, minyak goreng, gula, kopi, dan keperluan rumah tangga lainnya.

“Enggak salah, Boy? Hahaha! Masak anak laki-laki belanja beginian? Aku saja yang perempuan ogah! Hahaha … “

Boy hanya tersenyum mendengar ejekan sahabatnya itu. Luvi dan Boy sudah bersahabat lama. Mereka sudah kebiasaan bebas mengejek satu dengan yang lainnya harus tanpa tersinggung.

Luvi yang tertawa geli langsung masuk ke dalam antrean yang agak panjang menuju kasir. Ia sungguh penasaran dengan apa yang hendak diceritakan Boy.

“Seminggu lalu Mamaku belanja keperluan di sebuah hipermarket. Perginya dianter Papa yang sekalian mau pergi ke rumah Om Doni yang sedang sakit waktu itu. Karena Papa pulang malam, Mama telepon ke rumah meminta Bang Billy dan aku untuk menjemputnya dengan mobil. Saat itu Bang Billy dan aku lagi seru-serunya main playstation, jadi kami tolak permintaan Mama tersebut. Akhirnya Mamaku pulang sendirian naik taksi,” cerita Boy.

“Terus?”

“Supir taksi tersebut mabuk minuman keras, dan menyetir dengan ugal-ugalan di jalan. Hingga terjadilah kecelakaan pada taksi yang ditumpangi Mamaku itu,” Boy menghela napas dalam.

“Terus?” mata Luvi terbelalak.

“Supir taksi mengalami gegar otak dan patah tulang iga, sedangkan Mamaku hanya mengalami retak tulang lengan,” jawab Boy. Dada Luvi terasa sesak mendengarnya.

“Kok, kamu enggak cerita, sih? Biar aku dan Mamaku bisa jenguk Mamamu!” Luvi terlihat kesal dan kecewa pada sahabatnya itu.

“Kamu, kan, tahu Mamaku. Segala sesuatu tidak ingin dibesar-besarkan,” Boy menjelaskan. Luvi mengangguk tanda mengerti.

“Sejak kejadian itu, Bang Billy dan aku terus-menerus menyesal. Kalau saja kami mau menjemput Mama, mungkin hal itu dapat dihindari,” sesal Boy.

“Namun Mama malah menasehati kami untuk tidak menyesalinya. Tuhan pun masih menjaga Mama untuk tetap hidup, begitu kata Mama,” suara Boy terdengar agak parau. “Hati kami begitu terharu. Oleh sebab itulah kami berjanji selama belum pulih, maka kamilah yang menggantikan semua tugas dan pekerjaan Mama yang dibantu Mbok Yem.” Boy menyudahi ceritanya karena posisinya sudah tepat di depan kasir yang sedang memasukkan barang-barang belanjaannya. Mendengar cerita haru itu, Luvi teringat Mamanya di rumah yang sebelum pergi tadi minta tolong dibelikan cabe merah keriting dan bawang merah.

Setelah keluar dari minimarket, Luvi menceritakan kejadian di rumahnya tadi sebelum mereka berangkat. Luvi meminta Boy untuk menemaninya ke pasar tradisional sebelum pulang. Dengan senang hati Boy menyetujuinya.

“Tapi aku telepon Mama dulu ya, Boy. Memberitahu supaya Mama tidak usah ke pasar.” Pinta Luvi yang diikuti anggukan kepala Boy.

Luvi menghampiri telepon umum, lalu memasukkan koin dan menekan nomer telepon rumahnya diangkat langsung oleh Mamanya.

“Halo, Ma! Ini Luvi. Mama sudah beli cabe merah keriting dan bawang merah di pasar belum?”

“Ya belum, Luv. Mama masih sibuk bebenah rumah. Memangnya kenapa? Luvi mau tolongin Mama?” tanya Mama balik.

“Iya,” jawab Luvi.

“Tapi uang dari Mama barusan tidak kamu bawa, kan, Luv.”

“Pake uang Luvi saja, Ma. Enggak apa-apa kok.”

“Terimakasih, Luv. Tapi kenapa kamu tiba-tiba berubah?” Dengan perasaan senang campur bingung Mama Luvi bertanya.

“Karena… Aku sayang Mama!”

Mengapa Kalau Kita Sedang Sakit, Lidah Terasa Pahit ?

Yang namanya sakit itu memang serba tidak enak. Sakit influenza, misalnya, wah sekujur badan kita jadi cenderung panas dan terasa nyeri. Kadang masih ditambah pusing kepala dan pilek segala. Lalu kalau kita mencoba makan sesuatu, apa-apa yang sedang kita kunyah, kadang terasa pahit di lidah. Padahal yang kita makan itu enak-enak lho. Misalnya, bakso atau ayam goreng, eh, kok tetap saja pahit rasanya.

Seperti kita tahu bahwa lidah adalah sepotong daging tak bertulang yang terdapat di dalam rongga mulut kita. Lidah itu lunak, lembut, dan selalu basah. Fungsi utama lidah adalah sebagai indera pengecap dan organ komunikasi yang penting. Ketika kita sedang makan, lidah juga membantu proses pengunyahan, penelanan, dan pembersihan dari sisa-sisa makanan yang masih ada di dalam mulut dan gigi.

Lidah tersusun dari otot-otot dan permukaannya dilapisi lapisPETA LIDAH.jpgan epitelium yang banyak mengandung kelenjar lendir. Selain itu, lidah punya reseptor (ujung syaraf) pengecap berupa kuncup. Kuncup pengecap dapat membedakan 4 (empat) macam rasa, yaitu rasa manis, asam, asin, dan pahit.

Kuncup rasa manis lebih banyak terdapat di ujung lidah, kuncup rasa asam terdapat di tepi depan kiri dan kanan lidah, dan kuncup rasa asin terdapat di tepi belakang kiri dan kanan lidah. Sedangkan kuncup rasa pahit terdapat di pangkal lidah.

Nah, kalau kita sedang sakit atau tidak enak badan, maka kuncup pengecap kita pun jadi tidak peka lagi. Makanan seenak apapun jadi hambar. Yang kemudian paling terasa di lidah ya hanya rasa pahit ketika kunyahan makanan sedang kita telan melalui pangkal lidah.

LUKA HATI

Aku duduk terdiam di tengah kesunyian

Menatap langit yang enggan berbicara

Entah mengapa ia diam

Membisu seribu bahasa

Apakah ia juga tau akan kesedihanku?

 

Luka yang selama ini aku pendam

Sakit yang sangat mendalam

Sakit yang tak bisa terbendung lagi

Bagaikan pisau menggoreskan luka

 

Kau pergi bersama semua kenangan

Jauh, jauh, pergi…

Semakin kau jauh

Semakin kau pergi

Dan meninggalkan ku sendiri

Bersama luka dalam hati

 

Lama…

Semakin lama kau pergi

Hati ini semakin lama terbiasa

Untuk berdiri sendiri

 

Tanpamu, hati ini kosong

Mencoba untuk mencari kekosongan

Tapi, tak bisa…

 

Walau hati ini telah tertuju padamu

Aku baru sadar

Kau telah tiada

 

Dan pada akhirnya

Memang kau sudah tiada

Hanya luka hati ini yang tersisa